Bertempat di ruang saung dan pelataran kebun Buruan Manglayang, telah terselenggara agenda tahunan bertajuk “Pameran Buku Independen & Lingkar Temu Petani Muda”. Acara ini merupakan kolaborasi antara kolektif Buruan Manglayang dengan sejumlah penerbit buku kritis independen (termasuk Marjin Kiri, INSISTPress, dan jejaring literasi Bandung).
Acara ini dirancang untuk mempertemukan dua dunia yang sering kali dipisahkan: dunia kerja tangan/cangkul di tanah pertanian dengan dunia olah pikir literasi dan teori sosial.
Rangkaian Agenda Utama
-
Pameran Buku & Lapak Baca Terbuka
Ratusan judul buku seputar kajian agraria, sejarah sosial Indonesia, ekologi politik, sastra, dan panduan teknis berkebun organik dipajang di bawah rimbun pohon kopi dan bambu. Pengunjung dapat membaca bebas sembari menikmati seduhan kopi tubruk Manglayang. -
Sarasehan: ‘Siapa yang Meneruskan Cangkul di Masa Depan?’
Diskusi publik membedah persoalan struktural yang menghimpit kaum tani: alih fungsi lahan perbukitan Bandung Timur menjadi perumahan komersial, mahalnya akses lahan bagi generasi muda, serta minimnya proteksi harga komoditas lokal. Diskusi menghadirkan narasumber petani muda lokal, peneliti agraria, dan aktivis lingkungan. -
Demonstrasi Seni Tradisional Kertas Daluang
Di sela-sela diskusi, perajin daluang mempraktikkan proses penempaan serat kulit pohon saeh di depan para mahasiswa dan pemuda kota. Pengunjung berkesempatan mencoba langsung memegang alat penempa dan merasakan sensasi membuat lembaran kertas alami warisan nenek moyang.
Refleksi dan Benang Merah
Gerakan pangan mandiri tidak akan bertahan lama jika tidak ditopang oleh kesadaran literasi yang kritis. Sebaliknya, literasi akan menjadi elitis dan steril jika tidak menginjak bumi dan mencium bau tanah.
Melalui program-program semacam ini di Studio Merah, kami bertekad menjaga api dialog, menghubungkan para pemikir kota dengan para pekerja tanah di lereng bukit, dan melahirkan generasi baru yang tidak hanya mahir membaca buku, tetapi juga cakap menyemai benih kehidupan.