Logo Buruan Manglayang
Buruan Manglayang Agroekologi • Budaya • Literasi
Konservasi Budaya

Catatan Lokakarya: Pemuliaan Pohon Saeh dan Menempa Kertas Daluang Nusantara

"Dokumentasi program pelestarian pohon saeh (Broussonetia papyrifera) dan workshop pengolahan kulit kayu menjadi kertas daluang tradisional bersama perajin dan seniman."

Penulis: Tim Studio Merah
2 menit baca
Catatan Lokakarya: Pemuliaan Pohon Saeh dan Menempa Kertas Daluang Nusantara

Kertas daluang adalah salah satu mahakarya peradaban Nusantara tertua yang pernah diakui dunia. Jauh sebelum kertas selulosa kayu modern membanjiri pasar, naskah-naskah kuno Nusantara, piagam kerajaan, kitab keagamaan, hingga lembaran gambar Wayang Beber digoreskan di atas lembaran serat alami dari kulit pohon Saeh (Broussonetia papyrifera).

Namun saat ini, pohon saeh kian langka dan tradisi menempa kertas daluang terancam punah. Melalui program di Studio Merah, kolektif Buruan Manglayang menginisiasi rangkaian program pemuliaan pohon saeh dan pelatihan pembuatan kertas daluang untuk generasi muda.

[Bagan Alur Pengolahan Kertas Daluang]
1. Penanaman Bibit Saeh ──► 2. Pemanenan Batang ──► 3. Pengulitan & Pembersihan Serat Luar
                                                                 │
6. Lembaran Daluang Kering ◄── 5. Fermentasi Alami ◄── 4. Penempaan Kulit Kayu (Ikat/Palu Kuningan)

Tahapan Lokakarya & Pengalaman Lapangan

  1. Konservasi & Penanaman Bibit di Kebun Hulu
    Kami mengawali program dengan mengumpulkan stek bibit pohon saeh unggul dan menanamnya di area agroforestri lereng Manglayang. Pohon saeh membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 tahun hingga batangnya memiliki ketebalan serat yang ideal untuk dipanen.

  2. Proses Pengulitan dan Penyeratan (Ngagunting & Mulas)
    Peserta lokakarya diajarkan teknik memotong batang secara selektif agar tunas baru dapat tumbuh kembali tanpa membunuh pohon induk. Kulit batang kemudian dikelupas secara membujur dan dipisahkan dari lapisan epidermis luar yang kasar hingga tersisa serat kambium bagian dalam (bast fiber) yang berwarna krem bersih.

  3. Penempaan Tradisional (Ngetrok)
    Serat basah kemudian disusun di atas bantalan kayu keras dan ditempa secara perlahan menggunakan alat penempa kuningan (pameupeuh) yang memiliki pola guratan khusus. Proses penempaan ini memakan waktu berjam-jam, di mana serat-serat kayu saling mengait dan melebar secara alami tanpa perekat kimia sedikit pun.

  4. Fermentasi Daun Pisang dan Penjemuran
    Setelah ditempa hingga ketebalan yang diinginkan, lembaran serat dibungkus rapat dengan daun pisang selama beberapa hari untuk proses fermentasi alami guna melarutkan getah sisa. Terakhir, lembaran daluang dijemur di bawah naungan angin perbukitan hingga kering sempurna.

Capaian Program & Rencana Tindak Lanjut

  • 50 Bibit Pohon Saeh Baru berhasil ditanam di lahan konservasi kebun Burma.
  • 35 Peserta Muda & Penggiat Literasi dari Bandung dan sekitarnya mengikuti lokakarya intensif penempaan kertas daluang.
  • Kolaborasi Seni Wayang Beber & Seni Cetak Grafis: Lembaran daluang yang dihasilkan kini digunakan untuk proyek ilustrasi cerita rakyat dan media naskah puitis komunitas.

Kertas daluang bukan sekadar komoditas masa lalu; ia adalah simbol ketangguhan budaya dan harmoni manusia dengan flora hutan Nusantara.