Gunung Manglayang adalah salah satu menara air alami paling krusial bagi kehidupan warga Bandung Timur dan Sumedang. Di lereng-lerengnya, memancar puluhan mata air yang mengairi sawah, kebun, dan kebutuhan air bersih ribuan keluarga di hilir.
Namun, deforestasi dan ekspansi lahan terbangun mengancam debit air tersebut. Melalui inisiatif di Studio Merah, tim Buruan Manglayang bersama masyarakat adat dan pemuda setempat menggelar aksi “Ekspedisi Hulu: Sabuk Hijau Mata Air Manglayang”.
Rangkaian Aksi Konservasi
-
Pemetaan Partisipatif Titik Sumber Air
Bersama para sesepuh kampung, tim memetakan 3 titik mata air utama yang mulai mengalami penurunan debit air saat musim kemarau. -
Penanaman 100 Rumpun Bambu Petung & Awi Tali
Bambu dikenal sebagai tanaman dengan perakaran serabut yang sangat kuat mengikat air tanah (spongy rhizosphere) serta mencegah bahaya tanah longsor di tebing-tebing curam. -
Penanaman Pohon Penaung Buah & Konservasi
Selain bambu, ditanam pula bibit pohon beringin (Ficus), pohon saeh, loa, dan alpukat lokal yang berfungsi sebagai penyedia pakan burung liar dan penguat struktur tanah bukit.
“Menjaga mata air di hulu adalah bentuk pertanggungjawaban moral tertinggi masyarakat pegunungan kepada saudara-saudaranya yang hidup di dataran rendah hilir.”
Catatan koordinat GPS dan data monitoring debit air dari ekspedisi ini diarsipkan secara terbuka sebagai bahan kajian ekologi lanjutan bagi para peneliti dan relawan.