Logo Buruan Manglayang
Buruan Manglayang Agroekologi • Budaya • Literasi
Karya Sastra

Sajak Benih dan Hujan Pertama di Lereng Manglayang

"Sebuah karya puisi dan prosa liris tentang aroma tanah basah, degup kehidupan di balik kulit biji, dan harapan musim tanam di bukit timur Bandung."

Penulis: Kolektif Burma
1 menit baca

Langit timur Bandung perlahan meredup kelabu,
kabut Manglayang turun membelai pucuk-pucuk pinus yang membisu.
Ada aroma tanah basah—petrikor yang purba—
membangunkan cacing dan akar yang berbulan-bulan dahaga.

Di telapak tangan kami,
sebutir benih terbaring sunyi.
Kering, keras, tampak mati,
namun di dalamnya tersimpan denyut janji:
tentang daun yang akan menggapai matahari,
tentang bunga yang akan mengundang lebah bernyanyi,
tentang buah yang kelak mengenyangkan lapar insani.

Kami benamkan ia dua ruas jari ke dalam bumi,
bukan untuk menguburnya dalam nestapa,
melainkan menitipkannya pada rahim semesta.

Hujan pertama pun luruh menderas di atap saung bambu,
membasahi punggung bukit,
membersihkan debu-debu kota yang menempel di daun saeh.
Tanah ini kembali bernapas.
Dan kami, para perawat buruan,
kembali percaya pada keajaiban.

Catatan Pinggir Penyair:

Puisi ini ditulis saat musim hujan pertama tiba di kebun lereng Manglayang setelah kemarau panjang. Bagi kami, menyemai benih adalah tindakan spiritual tertinggi: perpaduan antara kerja keras merawat tanah dan kerendahan hati menyerahkan hasil akhirnya kepada Sang Maha Pencipta.