Kebudayaan bukan sekadar tumpukan ritus purba tanpa makna. Di dalam inti kebudayaan Sunda tradisional, manifestasi filsafat mewujud secara nyata pada benda-benda fisik dan bentang ruang yang mereka gunakan sehari-hari. Dua perwujudan paling agung dari kecerdasan ini adalah arsitektur imah panggung (rumah panggung) dan tata pengelolaan ruang air (Patanjala). Keduanya bukan hanya produk fisik, melainkan sistem rekayasa lingkungan hidup yang terikat erat oleh kompas kosmis.
Menelaah kembali dua pilar kebudayaan materiel Sunda ini membuka mata kita pada sebuah fakta ilmiah: bahwa para leluhur Tatar Sunda telah memecahkan tantangan mitigasi bencana dan manajemen air berabad-abad sebelum ilmu teknik modern barat masuk ke Nusantara, di mana landasannya terekam kuat dalam manuskrip naskah Sunda kuno.
Filtrasi Kosmis pada Struktur Vertikal: Manifestasi Buana Tilu dalam Tubuh Rumah
Di dalam falsafah Sunda, rumah bukan sekadar tempat bernaung dari hujan dan terik matahari, melainkan sebuah makrokosmos berskala kecil. Seluruh wujud fisik imah panggung dirancang sebagai replika hidup dari struktur alam semesta yang terekam dalam naskah kuno Sanghyang Raga Dewata abad ke-16. Naskah ini menggarisbawahi konsep kesejajaran antara makrokosmos (jagat raya) dan mikrokosmos (dunia manusia atau tubuh). Berdasarkan landasan berpikir tersebut, para leluhur Sunda membagi bangunan rumah secara vertikal ke dalam tiga tingkatan suci yang mencerminkan konsep Buana Tilu (Tiga Dunia), yaitu Buana Nyungcung (alam atas), Buana Panca Tengah (alam tengah), dan Buana Larang (alam bawah).
Bagian paling atas rumah, yaitu atap (hateup) dan area langit-langit (para), dipandang sebagai perwujudan dari Buana Nyungcung, alam suci tempat bersemayamnya Sang Hyang Keresa (Sang Pencipta). Karena sifatnya yang sakral, bagian atap dirancang menggunakan material alami yang ringan dan bernapas, seperti ijuk, bambu, atau rumbia. Secara fungsional dan spiritual, area di bawah atap ini digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga, pusaka keluarga, serta benih-benih padi yang dianggap suci sebagai titipan Dewi Sri. Atap adalah representasi dari kepala manusia dan spiritualitas ke atas. Bentuk segitiga mengerucut atau suhunan bertindak laksana doa yang mengarah langsung ke langit, menjaga hubungan spiritual penghuninya agar tetap murni.
Dunia tempat manusia hidup dan berinteraksi sehari-hari diwakili oleh bagian badan rumah atau awak imah, yang merefleksikan Buana Panca Tengah. Di sinilah ruang kehidupan yang sesungguhnya berjalan. Lantai rumah yang terbuat dari bambu belah (talupuh) atau papan kayu diposisikan menggantung di atas tanah, menandakan bahwa manusia tidak boleh melekat secara kotor pada bumi, tetapi harus menjaga jarak yang suci.
Pembagian ruang di dalam badan rumah ini juga mengikuti aturan moral. Bagian depan (tepas) bersifat terbuka untuk menyambut sesama manusia, bagian tengah (tengah imah) menjadi pusat kehangatan keluarga, dan bagian belakang (pawon atau dapur) menjadi lambang rahim dan ketahanan pangan. Badan rumah adalah zona keseimbangan; tempat di mana manusia harus mempraktikkan etika kesundaan (tatakrama) agar kehidupan tetap harmonis dan tidak tergelincir ke dalam kekacauan.
Bagian terbawah dari rumah panggung adalah kokolong atau kolong rumah, yang merepresentasikan Buana Larang, yaitu alam bawah yang diidentikkan dengan kegelapan, dunia binatang, dan gejolak nafsu rendah. Alih-alih memusuhi atau membuang alam bawah ini, arsitektur Sunda justru menjinakkan dan mengelolanya dengan sangat bijaksana. Kolong rumah setinggi 40 hingga 80 sentimeter sengaja dikosongkan dan dipisahkan dari lantai utama untuk memutus kontak langsung manusia dengan kelembapan tanah serta bahaya binatang buas. Di area ini, masyarakat tradisional biasanya memelihara hewan ternak seperti ayam atau menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul dan bajak sawah.
Secara filosofis, kolong rumah bertindak sebagai zona filtrasi kosmis. Sebelum gejolak atau bahaya dari alam bawah naik menyentuh ruang hidup manusia di alam tengah, energi tersebut diredam dan dinetralkan terlebih dahulu di dalam ruang kolong yang terbuka dan berangin ini.
Estetika Struktur yang Bersahabat dengan Guncangan Bumi
Dari sudut pandang teknik sipil modern dan mitigasi bencana, pembagian ruang vertikal imah panggung ini menghasilkan struktur hunian ramah gempa (earthquake-resistant design) yang sangat mutakhir. Penyangga utama rumah panggung bertumpu pada konsep Pondasi Lepas atau umpak. Struktur utama tiang kayu atau bambu tidak ditanam langsung ke dalam tanah yang digali, melainkan diletakkan bebas di atas landasan batu datar yang disebut umpak atau tatapakan. Tanpa adanya pondasi kaku tertanam, bangunan bertindak laksana peredam kejut dinamis (isolasi seismik). Saat gempa terjadi, gaya getaran bumi diserap oleh batu umpak dan tiang-tiang tersebut bergeser secara lentur mengikuti gelombang seismik tanpa mematahkan struktur utama bangunan.
Kecerdasan ini diperkuat oleh Sistem Sambungan Tanpa Paku. Seluruh komponen rangka kayu disambungkan menggunakan pasak kayu, sistem kancing pen, dan ikat rotan atau tali ijuk, menggantikan penggunaan paku besi yang rigid. Fleksibilitas sambungan organik ini memberikan ruang bagi rumah untuk “bergoyang” elastis saat menerima beban lateral akibat gempa bumi, mereduksi risiko keruntuhan total secara drastis. Riset ekofilosofi modern menegaskan bahwa kesatuan material alami—seperti bambu, kayu jati, beralaskan lantai bambu belah, dan beratap ijuk—membuat bobot bangunan menjadi sangat ringan. Jika struktur bergoyang hebat, potensi cedera fatal pada penghuninya jauh lebih kecil dibanding rumah tembok batu bata modern.
Tata Ruang Air “Patanjala”: Rekayasa Hidrologi dari Hulu hingga Muara
Air (cai) dalam kesadaran sosiologis Sunda menduduki posisi sentral; ia adalah darah dari bumi. Aturan geografis dan spasial mengenai pemukiman ini tercatat secara rigid dalam naskah kuno Warugan Lemah, naskah daun lontar yang mengklasifikasikan belasan model topografi lahan. Melalui Warugan Lemah, leluhur Sunda diajarkan untuk memahami “jiwa” hamparan tanah agar tata kelola air dan desa tidak mengundang petaka atau mamala. Pengelolaan air ini diatur melalui kearifan hidrologi berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) yang diturunkan melalui metode tradisional Laku Patanjala. Sesuai konsep hidrologi kuno, sistem ini membagi tata aliran air secara hierarkis dan teratur: walungan (sungai utama), wahangan (anak sungai), susukan (saluran irigasi mikro), hingga solokan (parit pemukiman).
Hukum ruang air Sunda tidak mengizinkan manusia merusak siklus air alami. Pola pergerakannya tunduk pada diktum topografis kuno yang sejalan dengan naskah Warugan Lemah. Diktum pertama adalah Gunung Kudu Awian, yang berarti kawasan hulu pegunungan harus ditanami vegetasi pelindung seperti pohon besar dan bambu agar bertindak sebagai zona resapan utama (recharge zone). Bambu mempunyai anyaman akar serabut yang sangat rapat, sangat efektif mengikat butiran tanah untuk mencegah erosi hulu sekaligus menahan volume air hujan masuk ke pori-pori bumi paling dalam.
Diktum kedua adalah Gawir Kudu Singgiran, yang mengamanatkan bahwa kawasan lereng atau tebing curam harus diwaspadai dan dijaga dari eksploitasi, sehingga dilarang keras diubah menjadi pemukiman padat atau pertanian komersial musiman demi menghindari bencana tanah longsor. Diktum ketiga adalah Lebak Kudu Caian, yang menginstruksikan bahwa kawasan dataran rendah atau lembah sungai harus dirancang untuk memiliki cekungan penampung air alami berupa kolam-kolam ikan (balong) dan telaga buatan (situ).
Keberadaan situ dan balong di sepanjang kawasan tengah berfungsi ganda. Selain menyokong ketahanan pangan lewat budidaya perikanan, kolam-kolam komunal ini berperan sebagai kolam retensi alami (flood retention basin). Saat debit air dari hulu melonjak ekstrem di musim hujan, air akan “parkir” terlebih dahulu di dalam jaring-jaring cekungan kolam ini. Langkah mekanis ini efektif mengurangi kecepatan puncak air dan mencegah luapan banjir bandang langsung menghantam kawasan hilir atau muara.
Tinjauan Tata Kelola Ruang Saat Ini: Ketika Beton Memutus Aliran Kosmis
Melihat kondisi spasial Jawa Barat hari ini, kita mendapati kontras yang memprihatinkan. Sistem tata kelola ruang modern saat ini mengalami kegagalan sistemik akibat adopsi paradigma antroposentrisme utilitarian yang berfokus pada kapitalisasi lahan. Cetak biru kearifan lokal yang diamanatkan naskah kuno didepak dan digantikan oleh bentangan aspal serta semen yang kedap air.
Di kawasan hulu pegunungan seperti Kawasan Bandung Utara, wilayah Puncak Bogor, dan Garut, prinsip gunung kudu awian dilanggar secara masif. Alih fungsi hutan lindung menjadi kawasan resort wisata komersial, perumahan elit, dan ladang monokultur sayuran membuat fungsi resapan hidrologis lumpuh total. Dampak langsungnya adalah peningkatan limpasan air permukaan (surface runoff) yang tidak terkendali.
Tragisnya, kegagalan di hulu ini diperparah oleh hilangnya benteng pertahanan di dataran rendah. Ribuan situ dan balong penyangga di tatar Sunda telah hilang diurug demi pembangunan pusat perbelanjaan, pabrik industri, dan kompleks perumahan real estat. Sungai-sungai kehilangan sempadannya, menyempit karena okupasi bangunan permanen yang melanggar batas hukum alam.
Rumah-rumah modern tidak lagi dibangun dalam bentuk imah panggung yang elastis dan adaptif berdasarkan konsep naskah kuno Buana Tilu, melainkan rumah tembok masif berpondasi beton kaku yang didirikan tepat di wilayah dataran banjir (floodplain). Akibatnya dapat ditebak secara saintifik: daerah hilir menjadi langganan banjir tahunan karena air kehilangan ruang parkirnya yang sah. Ketika gempa bumi tektonik terjadi, bangunan-bangunan beton tanpa kalkulasi mitigasi lokal inilah yang ambruk dan menelan korban jiwa masif akibat kegagalan struktur kaku. Melalui pemahaman mendalam ini, kita diajak merenungkan kembali bahwa teknologi yang kita butuhkan untuk menjawab krisis iklim saat ini sebenarnya sudah tertulis rapi dalam ingatan masa lalu kita sendiri.
Penulis adalah pemerhati kebudayaan dan aktivis lingkungan di Buruan Manglayang
Bibliography
- Naskah Sanghyang Raga Dewata. (Abad ke-16 Masehi). Koleksi Museum Negara Sri Baduga Provinsi Jawa Barat. (Manuskrip primer konsep kesejajaran makrokosmos-mikrokosmos dan konsepsi tata ruang Buana Tilu).
- Naskah Warugan Lĕmah. (Koleksi Perpustakaan Nasional RI, No. L622 Peti 88 / Kabuyutan Ciburuy Garut). (Manuskrip primer klasifikasi topografi lahan, mitigasi bencana tanah longsor, dan tata ruang desa Sunda kuna).
- Iskandar, J. (2018). Etnobiologi dan Ekologi Manusia: Menguak Kearifan Lokal Masyarakat Sunda dalam Mengelola Lingkungan. Bandung: Remaja Rosdakarya. (Membahas filosofi hulu-hilir, Laku Patanjala, dan fungsi hidrologis kearifan lokal Sunda).
- Nuryanto. (2023). Intangible cultural heritage values in the Sunda Wiwitan ritual and ancient Sundanese manuscripts as basic concepts of traditional building in Indonesia. Journal of Architecture and Urbanism. (Membedah rekayasa struktural imah panggung berdasarkan naskah kuno).