Bayangkan jika alam semesta ini adalah sebuah rumah panggung yang besar dan anggun. Di dalam rumah itu, kita sebagai manusia bukanlah pemilik tunggal yang bebas merombak seisi ruangan sesuka hati. Kita hanyalah salah satu penghuni yang menumpang hidup, berbagi atap dengan angin, bersanding dinding dengan pepohonan, dan beralaskan lantai tanah yang rapuh. Agar rumah ini tidak roboh, ada tata krama ketat yang harus kita patuhi.
Bagi masyarakat Sunda kuno, tata krama mendasar inilah yang menjadi inti dari kosmologi: sebuah panduan kompas spiritual sekaligus kompas ekologis yang mengatur bagaimana manusia harus menempatkan diri di hadapan alam raya dan Sang Pencipta. Berbeda dengan cara pandang modern yang sering melihat alam sebagai benda mati, leluhur Tatar Sunda memandang jagat raya sebagai organisme yang hidup, bernapas, dan bisa terluka.
Membaca Lembaran Daun Lontar: Struktur Jagat Raya yang Harmonis
Jika kita membuka kembali lembaran naskah kuno berbahan daun lontar seperti Sanghyang Raga Dewata atau lembaran naskah Kropak, kita akan menemukan betapa rapinya para leluhur Sunda memetakan semesta. Mereka membagi jagat raya ke dalam tiga tingkatan ruang yang saling terikat, yang dikenal dengan istilah Tri Tangtu di Buana.
Di puncak tertinggi ada Buana Nyungcung. Ini adalah alam atas yang suci dan tak berwujud fisik, tempat bersemayamnya Sang Hyang Keresa—Sang Pencipta yang Maha Berkehendak. Dari alam inilah hukum-hukum keteraturan alam semesta memancar.
Di dasar paling bawah ada Buana Larang, sebuah ruang penuh pergolakan, kekacauan (chaos), dan tempat mengendapnya nafsu-nafsu rendah yang merusak.
Lalu di manakah kita? Manusia ditempatkan tepat di tengah-tengah, di sebuah ruang bernama Buana Panca Tengah. Angka panca (lima) di sini bukan tanpa arti, ia melambangkan bumi tempat kita berpijak yang dipengaruhi oleh empat penjuru mata angin dan satu titik pusat tempat manusia berdiri menggunakan panca indranya.
Di alam tengah inilah manusia mengemban mandat sakral yang disebut Mulasara Buana, yang artinya memelihara dan merawat bumi. Manusia Sunda kuno diajarkan bahwa posisi mereka di alam tengah sangatlah rapuh. Jika manusia membiarkan nafsu serakahnya menguasai diri, mereka akan menarik bumi yang indah ini jatuh ke dalam kehancuran Buana Larang. Sebaliknya, jika manusia mampu menahan diri, mereka membawa berkah kesucian Buana Nyungcung turun ke bumi.
Tidak hanya berbicara tentang ruang gaib, leluhur Sunda juga mewariskan panduan praktis yang sangat membumi lewat naskah kuno berjudul Waruga Lemah. Naskah ini adalah kitab kuno yang membahas tentang karakter, sifat, dan “jiwa” dari hamparan tanah. Melalui naskah ini, leluhur Sunda belajar membaca kontur alam: mana tanah yang baik untuk dijadikan pemukiman, mana tanah yang membawa berkah untuk bertani, dan mana tanah yang berkarakter labil sehingga tidak boleh disentuh demi keselamatan bersama.
Jembatan Gaib, Menghidupkan Kosmologi Lewat Napas Mitologi
Jika kosmologi adalah sebuah cetak biru atau peta arsitektur alam semesta, maka mitologi adalah kisah hidup yang membuatnya bernapas. Di Tatar Sunda, kosmos yang kaku dan abstrak di dalam naskah kuno tidak akan pernah sampai ke kesadaran masyarakat bawah jika tidak dialirkan melalui cerita-cerita mitologis, pantun Sunda, dan dongeng penumpas sunyi di pelataran rumah adat. Mitologi memanusiakan kosmos; ia mengubah angka dan struktur vertikal yang rumit menjadi sosok-sosok yang memiliki watak, emosi, dan pesan moral.
Dalam naskah kuno Carita Parahyangan maupun fragmen sastra lisan Wawacan, relasi ini terlihat sangat terang. Kosmologi Tri Tangtu di Buana tidak dibiarkan menjadi konsep kosong. Mitologi Sunda mengisinya dengan narasi perjuangan kosmis. Sebagai contoh, penataan alam tengah (Buana Panca Tengah) diatur melalui mitos penitisan para dewa atau leluhur yang turun dari Buana Nyungcung. Mereka turun bukan untuk menjajah, melainkan untuk memberikan panduan batas-batas hidup. Cerita mitologis mengenai tokoh sakral seperti Sanghyang Borosngora atau tokoh-tokoh dalam pakem Pantun Bogor selalu berkisah tentang tokoh yang berjalan mencari harmoni, meluruskan tanah yang miring, dan menghukum keserakahan yang melanggar batas alam bawah (Buana Larang).
Salah satu bukti paling indah dari perkawinan mitologi dan kosmologi ini hidup dalam tradisi lisan agraris melalui naskah lisan Wawacan Sulanjana. Mitos ini mengisahkan tentang asal-muasal padi yang lahir dari pengorbanan Nyi Pohaci Sanghyang Sri (Dewi Sri). Dalam kisah tersebut, Dewi Sri wafat, dan dari kuburnya tumbuhlah berbagai tanaman: rambutnya menjadi padi, darahnya menjadi air yang mengairi sawah, dan tulang-belulangnya menjadi pohon penyangga.
Secara kosmologis, mitos ini menanamkan kesadaran yang sangat dalam bahwa tanah dan padi adalah sesuatu yang sakral karena mereka berasal dari tubuh dewi yang suci. Ketika seorang petani Sunda menginjakkan kaki di sawah, dia tidak sedang menghadapi tanah mati yang netral. Tradisi lisan membisikkan ke telinganya bahwa dia sedang menyentuh rahim Ibu Bumi. Oleh karena itu, lahirlah tata cara mitologis sebelum menanam padi, seperti ritual Ngaseuk atau Nyepuh, di mana para petani berbicara kepada padi dengan bahasa yang sangat lembut seolah sedang membujuk seorang bayi. Mitologi mengubah aktivitas ekonomi bertani menjadi upacara ibadah kosmis untuk menjaga keseimbangan dunia.
Di sisi lain, tradisi lisan juga menyediakan mitos-mitos yang berfungsi sebagai alarm kosmis penanda batas ego manusia. Mari kita tengok mitos Sangkuriang yang melekat erat pada lanskap geografis Bandung Raya. Dari kacamata kosmologi ekologis, kisah Sangkuriang adalah mitos tentang kegagalan manusia dalam mengendalikan nafsu (Buana Larang) hingga nekat menjebol bentang alam demi ambisinya, seperti membendung sungai dan menebang hutan untuk membuat perahu dalam satu malam. Kegagalan Sangkuriang yang berakhir dengan ditendangnya perahu menjadi Gunung Tangkuban Parahu adalah peringatan mitologis bahwa siapa pun manusia yang mencoba menantang keteraturan kosmis dan geologis semesta, dia akan dihantam balik oleh alam itu sendiri.
Sementara itu, di wilayah pesisir, mitos Nyi Roro Kidul bertindak sebagai penjaga hukum kosmis lautan. Tradisi lisan masyarakat pesisir tidak menggambarkan Penguasa Laut Selatan ini sebagai hantu yang menakutkan, melainkan sebagai personifikasi dari hukum alam samudra yang megah, tegas, dan tak kenal kompromi. Secara kosmologis, lautan adalah wilayah Muara, tempat segala energi kotor dari daratan dibersihkan kembali. Mitos bahwa lautan selatan akan menelan siapa saja yang sombong atau melanggar pantangan, seperti memakai pakaian warna hijau yang menyerupai warna lumut laut sakral, adalah cara tradisi lisan memaksa manusia untuk menundukkan kepalanya di hadapan kekuatan samudra. Mitologi ini melahirkan rasa hormat sehingga para nelayan tidak berani mengeksploitasi laut secara brutal karena mereka tahu ada batas magis yang jika dilanggar akan mendatangkan murka kosmis.
Melalui anyaman naskah kuno dan tradisi lisan ini, kita melihat bahwa mitologi Sunda bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur yang beralur fiktif. Ia adalah bahasa simbolik tingkat tinggi. Para leluhur sengaja meminjam wajah para dewa, tokoh pantun, dan penguasa gaib agar hukum-hukum sains lingkungan yang berat bisa dipatuhi dengan penuh cinta, rasa hormat, dan ketulusan oleh generasi demi generasi.
Ketika Tradisi Menjawab Sains Modern
Mendengar istilah naskah kuno, kita mungkin terjebak pada pemikiran bahwa ini hanyalah urusan mistis atau mitos masa lalu. Namun, jika kita membedahnya dengan kacamata sains modern, apa yang ditulis oleh para leluhur Sunda sebenarnya adalah bentuk awal dari ilmu konservasi lingkungan (ekofilosofi) yang sangat cerdas.
Ambil contoh konsep pembagian hutan tradisional Sunda. Mereka membagi wilayah hutan menjadi tiga zona utama: Leuweung Larangan (hutan suci yang tidak boleh dimasuki), Leuweung Tutupan (hutan penyangga), dan Leuweung Garapan (hutan produksi yang boleh dimanfaatkan untuk pertanian).
Dalam sains modern, konsep Leuweung Larangan ini persis sama dengan kawasan cagar alam atau zona inti taman nasional. Secara hidrologis, hutan yang tidak boleh dijamah ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air alami (recharge zone). Pohon-pohon besar di dalamnya bertindak sebagai spons raksasa yang menyerap air hujan dan menyimpannya di dalam tanah, sehingga mata air di bawahnya tetap mengalir sepanjang tahun dan bencana longsor bisa dicegah.
Begitu pula dengan larangan mendirikan rumah di area tanah tertentu dalam naskah Waruga Lemah. Menggunakan sains modern, kita tahu bahwa tanah dengan kemiringan curam atau dekat dengan patahan geologis memiliki risiko likuefaksi dan longsor yang tinggi. Karena pada masa lalu belum ada istilah teknis seperti “geoteknik” atau “mitigasi bencana”, para leluhur membungkus pengetahuan ilmiah ini dengan konsep pamali (tabu) atau kedon. Kata pamali bukanlah pembatasan tanpa alasan, melainkan sebuah benteng hukum adat berbasis kesadaran agar manusia tidak celaka akibat merusak struktur bumi.
Leluhur Sunda juga memandang adanya keselarasan antara jagat kecil (mikrokosmos) dan jagat besar (makrokosmos). Tubuh manusia dipercaya dibentuk dari unsur yang sama dengan bumi: tanah mewujud dalam daging, air mewujud dalam darah, api mewujud dalam kehangatan tubuh, dan angin mewujud dalam napas. Konsep ini sejalan dengan siklus biogeokimia dalam ilmu biologi modern. Apa yang kita makan dan minum berasal dari atom-atom di bumi, dan ketika kita mati, tubuh kita akan kembali melebur dengan tanah. Menyakiti alam, dengan demikian, disamakan dengan meracuni diri kita sendiri secara perlahan.
Dua Wajah Tatar Sunda, Hijau Gunung dan Biru Laut
Menariknya, meskipun bersumber dari satu akar filosofi yang sama tentang menjaga keseimbangan, penerapan kosmologi Sunda ini tumbuh subur dan menyesuaikan diri dengan bentang alam tempat masyarakatnya menetap. Hal ini melahirkan dua karakter budaya yang berbeda namun saling melengkapi: Sunda Agraris di pedalaman dan Sunda Pesisir di tepi pantai.
Masyarakat Sunda Agraris tumbuh di wilayah pedalaman yang dikelilingi oleh bukit dan pegunungan. Orientasi ruang mereka adalah gunung-sentris (hulu). Bagi mereka, gunung adalah tempat yang suci karena dari sanalah air bersih mengalir dan kesuburan tanah bermula. Dalam mitologi agraris, rahim Ibu Bumi diwujudkan dalam figur Dewi Sri, sang dewi padi yang melambangkan kelembutan, perawatan, dan stabilitas kehidupan.
Siklus hidup masyarakat agraris bergerak melingkar, tenang, dan teratur mengikuti musim tanam. Rasa syukur mereka atas harmoni alam ini dikunci lewat ritual Seren Taun, sebuah pesta panen raya di mana seluruh warga menyerahkan sebagian hasil bumi terbaiknya ke dalam lumbung komunal (leuit) sebagai simbol bahwa rezeki ini adalah titipan alam yang harus dibagi bersama.
Di sisi lain, masyarakat Sunda Pesisir yang tinggal di sepanjang pantai utara dan selatan Jawa Barat memiliki pandangan yang berbeda. Wajah mereka tidak menghadap ke gunung, melainkan menatap lurus ke arah laut lepas (laut-sentris/muara). Jika orang agraris memuja gunung yang tenang dan pasti, orang pesisir harus bernegosiasi dengan laut yang dinamis, penuh ombak, dan tidak dapat diprediksi.
Di wilayah pesisir selatan, simbol kekuatan kosmis itu bergeser menjadi figur Nyi Roro Kidul, sosok penguasa samudra yang perkasa dan berwibawa. Karakter orang Sunda pesisir tumbuh menjadi lebih terbuka terhadap pembaruan, berani bertaruh dengan ketidakpastian cuaca, dan adaptif. Mereka tidak lagi meniti ketenangan komunal di lereng bukit, melainkan melintasi batas cakrawala yang dinamis.
Ekspresi kosmologi mereka tidak diwujudkan dalam bentuk menumbuk padi di lesung, melainkan lewat ritual Sedekah Laut atau larung sesaji. Mereka menghanyutkan sebagian rezeki kembali ke tengah laut sebagai tanda penghormatan dan pengakuan bahwa manusia harus berbagi ruang secara adil dengan para penguasa samudra.
Kompas Kuno yang Mulai Kehilangan Magnetnya
Namun, jika kita melakukan perjalanan menyusuri sudut-sudut Tatar Sunda hari ini, kita akan merasakan ada sesuatu yang patah. Kompas kosmis yang diwariskan oleh para leluhur perlahan-lahan mulai kehilangan magnet penunjuk arahnya. Terjadi pergeseran cara pandang yang luar biasa drastis dalam kehidupan masyarakat Sunda modern.
Cara pandang yang dulunya bersifat kosmos-sentris (di mana alam dianggap sebagai pusat kesadaran yang suci) kini telah bergeser menjadi antroposentris-utilitarian (di mana ego manusia dianggap sebagai pusat dari segala-galanya, dan alam diturunkan derajatnya hanya sebagai pelayan atau komoditas dagang).
Alam telah mengalami desakralisasi. Pohon-pohon di hutan tidak lagi dilihat sebagai penjaga urat air bawah tanah, melainkan dihitung sebagai sekian kubik kayu yang siap diuangkan. Gunung-gunung tidak lagi dipandang sebagai hulu tempat suci bersemayam, melainkan sebagai tumpukan material tambang batu belah dan pasir yang siap dikeruk habis.
Dampak dari pergeseran ini bukan lagi sekadar dongeng atau ramalan, melainkan kenyataan pahit yang kita saksikan di berita setiap hari.
-
Krisis Mata Air: Alih fungsi lahan yang masif di wilayah pegunungan hulu demi pembangunan kompleks bangunan komersial telah menghancurkan wilayah yang dulunya adalah Leuweung Larangan. Akibatnya, ratusan mata air alami (sirah cai) mati total, menyebabkan krisis air bersih bagi jutaan warga di dataran rendah saat musim kemarau tiba.
-
Bencana Ekologis Berantai: Ketika hutan di dataran tinggi digerus dan digantikan oleh pertanian komersial monokultur tanpa mengindahkan aturan topografi naskah kuno, bumi kehilangan daya rekatnya. Air hujan tidak lagi meresap, melainkan meluncur deras di permukaan tanah sebagai banjir bandang yang merendam wilayah hilir, sementara tebing-tebing yang rapuh runtuh menjelma menjadi tanah longsor yang merenggut nyawa.
-
Rusaknya Harmoni Pesisir: Di wilayah pantai, hilangnya etika pembatasan diri membuat hutan-hutan bakau (mangrove) dibabat habis untuk perluasan industri intensif. Akibatnya, abrasi mengikis daratan secara brutal, dan nelayan tradisional kehilangan kemampuan untuk “membaca” tanda-tanda alam karena ekosistem mikro laut telah rusak total oleh polusi.
-
Degradasi Sosial: Dampak yang paling menyedihkan adalah hilangnya jati diri. Ketika lahan-lahan digusur menjadi kawasan industri dan pantai tercemar limbah, masyarakat Sunda kehilangan ruang hidupnya. Para petani dan nelayan terpaksa kehilangan mata pencaharian tradisional mereka, memutus mata rantai transmisi budaya dan pengetahuan lokal kepada anak cucu mereka.
Memulihkan “Tata Krama” Terhadap Bumi
Membaca kembali kosmologi Sunda dulu dan hari ini memberi kita sebuah cermin besar yang jujur sekaligus menampar kesadaran kita. Menghidupkan kembali kearifan lokal bukan berarti kita harus mundur ke belakang, menolak teknologi, memakai pakaian masa lalu, dan hidup terasing di dalam hutan. Nilai-nilai kuno ini tidak pernah meminta kita untuk menolak kemajuan zaman.
Inti dari menghidupkan kembali kosmologi Sunda kuno adalah memulihkan kembali rasa hormat dan “tata krama” kita sebagai manusia terhadap bumi yang kita tumpangi ini. Di tengah ancaman krisis iklim global yang semakin nyata, naskah-naskah kuno Tatar Sunda menawarkan obat penawar yang sangat sederhana namun mendalam: bumi ini akan merawat dan memberi kita kehidupan yang melimpah, hanya jika kita memperlakukannya sebagai sesama makhluk hidup yang berhak dihormati. Selama kita masih memandang alam sekeliling sebagai komoditas yang boleh dikuras tanpa batas, selama itu pula bencana akan terus mengetuk pintu rumah kita.
Bandung, 2026
Penulis adalah seniman dan pemerintah kebudayaan