Dalam kosmologi masyarakat Sunda tradisional, rumah tinggal bukanlah sekadar kotak tempat berteduh dari hujan dan terik matahari. Tata letak pemukiman tradisional selalu dirancang dalam satu kesatuan ekologis yang harmonis: ada imah (bangunan rumah), dapur (pusat pengolahan), leuit (lumbung padi), kebon (ladang), dan yang tak kalah sakral adalah buruan (halaman pekarangan).
Sayangnya, dalam tata ruang modern yang serba komersial dan padat kavling, istilah buruan kian terkikis. Halaman depan kerap disemen rapat, dipaving blok, atau dihabiskan untuk garasi kendaraan bermotor, menyisakan nol ruang bagi tanah untuk bernapas dan air hujan untuk meresap.
Buruan: Lebih dari Sekadar Halaman Kosong
Kata buruan dalam bahasa Sunda memiliki dimensi sosiologis dan ekologis yang sangat kaya:
-
Lumbung Hayati & Apotek Hidup (Tutuwuhan Pangan & Obat)
Dahulu, di setiap buruan selalu ditemukan pohon salam, serai, pandan, kunyit, sirih, jahe, hingga pohon kelor. Buruan adalah pertolongan pertama ketika anggota keluarga terserang demam atau saat dapur membutuhkan bumbu masak mendesak tanpa harus membeli ke pasar. -
Ruang Temu Antar-Warga (Pariuk Gawe & Paguneman)
Buruan adalah ruang publik organik tempat anak-anak bermain kaulinan barudak (seperti oray-orayan, gatrik, atau congklak) dan tempat para tetangga duduk santai di sore hari sambil menyeruput teh atau kopi. Tidak ada sekat pagar tinggi yang memisahkan satu keluarga dengan keluarga lainnya. -
Zona Resapan & Ekosistem Mikro
Tanah buruan yang dibiarkan alami menjadi rumah bagi cacing, mikroorganisme tanah, dan serangga penyerbuk. Dedaunan yang gugur di buruan disapu dan dikumpulkan di pojok pekarangan untuk menjadi kompos alami (runtah organik).
“Ketika sebuah keluarga kehilangan buruan, mereka sesungguhnya tidak hanya kehilangan sepetak tanah, melainkan juga kehilangan kemandirian pangan dan kehangatan silaturahmi dengan sesama.”
Membangkitkan Kembali Jiwa “Buruan” di Era Krisis
Di tengah krisis iklim global dan melambungnya harga kebutuhan pokok, menghidupkan kembali filosofi buruan menjadi sebuah keniscayaan. Kita tidak perlu menunggu memiliki berhektar-hektar lahan pertanian untuk mulai menanam.
Sejengkal tanah di samping rumah, susunan pot tanah liat di balkon, atau sudut teras yang terpapar sinar matahari dapat disulap menjadi buruan produktif. Menanam sebatang pohon cabai dan sepohon tomat bukan sekadar kegiatan bercocok tanam hobi, melainkan pernyataan sikap bahwa kita menolak sepenuhnya didikte oleh pasar.
Nama Buruan Manglayang adalah prasasti pengingat bagi kami semua: bahwa perjalanan merawat semesta selalu berhulu dari halaman rumah kita sendiri.