Logo Buruan Manglayang
Buruan Manglayang Agroekologi • Budaya • Literasi
Esai Agraria

Pulang ke Tanah: Menemukan Kedaulatan di Kaki Gunung Manglayang

"Sebuah esai reflektif tentang perlawanan generasi muda terhadap arus urbanisasi, krisis pangan struktural, dan makna memegang cangkul di lereng bukit."

Penulis: Ginan & Kawan-kawan Burma
3 menit baca

Ketika beton-beton di kawasan Bandung Timur kian merayapi kaki bukit dan deru kendaraan jalan raya menggantikan desir angin di rimbun pepohonan, ada sebuah pertanyaan mendasar yang selalu mengusik benak kami: siapa yang kelak akan memberi makan kita esok hari?

Pertanyaan ini bukan sekadar retorika ekologis di ruang seminar berpendingin udara. Ini adalah kecemasan nyata yang kami jumpai saat menatap lereng Gunung Manglayang yang perlahan berubah rona. Lahan-lahan produktif yang dulunya menjadi benteng penyerap air dan lumbung pangan beralih fungsi menjadi deretan perumahan klaster dan kawasan industri. Bersamaan dengan itu, desa-desa perlahan kehilangan anak-anak mudanya yang berbondong-bondong meninggalkan tanah kelahirannya demi janji upah minimum di pabrik atau menjadi buruh di sektor jasa perkotaan.

Stigma dan Keterasingan Petani Muda

Bagi sebagian besar anak muda generasi kiwari, bertani kerap diidentikkan dengan kemiskinan, lumpur, ketidakpastian harga pasar, dan kepasrahan pada nasib. Kita telah lama diindoktrinasi oleh narasi pembangunan yang mengagungkan gelar ijazah dan meja kantor, seraya merendahkan tangan-tangan kasar yang memelihara benih dan mencangkul tanah.

Akibatnya fatal: terjadi keterputusan generasi petani. Rata-rata usia petani di pedesaan kini telah melampaui 50 tahun. Kita mengonsumsi pangan setiap hari—nasi, sayur, kopi, rempah-rempah—tetapi kita sama sekali terasing dari proses bagaimana pangan tersebut tumbuh dan siapa yang merawatnya. Ketergantungan pangan perkotaan pada pasokan luar daerah menciptakan kerentanan yang luar biasa rapuh.

“Memegang cangkul dan menyemai benih bukanlah langkah mundur ke masa lalu, melainkan pilihan sadar untuk merebut kembali masa depan yang berdaulat.”

Memulai dari Unit Terkecil: Buruan

Buruan Manglayang lahir pada tahun 2017 bukan dengan proyek megah berbujet miliaran rupiah. Kami memulainya dari ruang paling sederhana: buruan (pekarangan rumah).

Di atas sejengkal tanah di halaman rumah, kami belajar menanam kembali cabai, tomat, katuk, dan rimpang jahe. Kami mengolah sampah sisa dapur menjadi kompos subur, mengamati cacing-cacing tanah yang menggemburkan humus, dan memahami bahwa tanah yang sehat tidak membutuhkan pupuk kimia sintetis maupun pestisida beracun dari korporasi multinasional.

Ketika pekarangan rumah telah bersemi dan mampu memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari, langkah kaki kami meluas ke petak-petak kebun di lereng Manglayang. Kami menanam tumpang sari: pohon penaung kopi, pohon saeh (Broussonetia papyrifera), aneka umbi-umbian, dan sayuran lokal.

Kedaulatan yang Berakar

Bagi kami di Buruan Manglayang, agroekologi bukan sekadar teknik bercocok tanam tanpa pestisida. Agroekologi adalah laku hidup dan sikap politik kebudayaan. Bertani secara alami adalah cara kami menyembuhkan luka bumi, memelihara mata air hulu yang mengalir ke cekungan Bandung, dan memastikan bahwa kita tidak menjadi budak dari sistem rantai pasok pangan oligarki.

Pulang ke tanah bukan berarti menutup diri dari modernitas. Justru dengan pengetahuan ekologis yang kritis, generasi muda dapat memadukan teknologi komunikasi, jejaring literasi, dan kearifan lokal Sunda untuk menciptakan model kehidupan yang mandiri, bermartabat, dan berkelanjutan.

Di kaki Gunung Manglayang, kami belajar bersabar bersama benih. Sebab kami percaya, kedaulatan sebuah bangsa tidak pernah dimulai dari meja perundingan yang berjarak, melainkan dari tanah yang dirawat dengan cinta dan tangan yang merdeka.