Logo Buruan Manglayang
Buruan Manglayang Agroekologi • Budaya • Literasi
Filsafat Lingkungan

Biosentrisme, Sebuah Kritik Terhadap Eko-Komunisme Kohei Saito

"Artikel ini mengkritik utopia eko-komunisme Kohei Saito, menyoroti bahwa hasrat manusia akan kemakmuran individual dan peran keluarga di Global South menjadi penghalang utama bagi gerakan ekologi, berbeda dengan asumsi masyarakat maju."

Penulis: Zeni Nugroho
7 menit baca
Biosentrisme, Sebuah Kritik Terhadap Eko-Komunisme Kohei Saito

Kita hari ini hidup dalam kepungan kecemasan yang sama, bumi sedang sekarat, dan semua orang sibuk mencari obatnya. Di satu sisi, eko-kapitalisme modern menawarkan “candu” berupa ilusi ramah lingkungan—membeli mobil listrik, menggunakan sedotan kertas, atau berinvestasi pada saham-saham berlabel hijau. Di sisi lain, pemikir seperti Kohei Saito datang menawarkan “rem darurat” radikal bernama Degrowth Communism [Saito 2020] . Saito membayangkan sebuah utopia di mana manusia secara sukarela memperlambat laju ekonomi, mematikan mesin pemburu laba, dan mengelola kekayaan bumi sebagai milik bersama ( the commons ).

Namun, jika kita bersikap jujur dan realistis melihat dunia hari ini, terutama di wilayah Belahan Bumi Selatan ( Global South ), utopia eko-komunisme Saito seketika membentur dinding realitas yang tebal. Hambatan terbesar untuk menyelamatkan bumi bukan sekadar masalah teknis atau ekonomi, melainkan masalah psikologi politik: hasrat manusia akan kemakmuran individual dan penegasan kekuasaan.

Untuk memahami mengapa ketamakan struktural ini begitu kokoh, kita harus melayangkan pandangan pada unit sosial paling intim dan mendasar di masyarakat, yaitu keluarga. Sebagai sistem sosial mikro, keluarga adalah tempat pertama di mana kepribadian dibentuk, nilai-nilai moral diturunkan, dan hasrat manusia divalidasi. Sebelum seseorang menjadi politisi yang korup atau pengusaha yang ekstraktif di tingkat makro, orientasi hidup mereka dibentuk oleh narasi keberhasilan yang mereka pelajari di dalam rumah. Oleh karena itu, kegagalan atau keberhasilan gerakan ekologi sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam benteng domestik ini.

Benturan Hasrat di Dunia Ketiga

Ironisnya, mengasumsikan keluarga di dunia ketiga sebagai agen kesadaran ekologis adalah sebuah kekeliruan sosiologis yang fatal. Bagi masyarakat di negara maju yang sudah kenyang dengan kenyamanan material, narasi slow living dan mengurangi konsumsi mungkin terdengar mulia. Namun, bagi keluarga di Global South , situasinya berbeda 180 derajat. Setelah berabadabad didera kemiskinan sistemik dan sisa-sisa trauma kolonialisme, kemakmuran material dan pertumbuhan ekonomi dipandang sebagai satu-satunya simbol martabat, pemulihan harga diri, dan kedaulatan diri.

Dalam konteks psikologis, masyarakat yang terluka ini, lingkaran keluarga di dunia ketiga hari ini tidak lebih dari ruang validasi hasrat dan mesin penegas dari sistem kapitalisme itu sendiri. Keberhasilan hidup anak-anak diukur dari seberapa mampu keluarga tersebut mengonsumsi komoditas yang ditawarkan pasar, gawai terbaru, kendaraan pribadi, atau pakaian bermerek.

Meminta orang tua yang sedang berjuang meloloskan anaknya dari jerat kemiskinan untuk memikirkan batas biofisik bumi atau jejak karbon adalah sebuah “kemewahan borjuis” yang absurd.

Saito mengasumsikan manusia sebagai makhluk rasional yang bisa dengan mudah menghapus ego demi kebaikan bersama [Saito 2020]. Realitasnya, ketamakan sistematis dan hasrat kekuasaan dalam lingkaran politik makro ( government ) telah mengunci mati peluang hadirnya jalan tengah yang ideal, sementara institusi mikro seperti keluarga justru berputar di dalam lingkaran setan yang memperparah keadaan.

Menggugat Jargon Save the Earth Melalui Kacamata Biosentrisme

Di tengah kebuntuan makro dan mikro ini, gerakan lingkungan kita justru terjebak dalam jargon kosmetik yang keliru, Save the Earth . Mengapa jargon ini gagal mengubah keadaan? Karena narasi ini justru melestarikan Dualisme Cartesian, sebuah cara pandang warisan filsuf René Descartes yang memisahkan secara tegas antara manusia sebagai subjek penguasa ( res cogitans ) dan alam sebagai objek mati ( res extensa ). Saat kita berteriak “selamatkan bumi!” Kita secara tidak sadar menempatkan diri kita pada posisi superior; manusia adalah pahlawan pembela, dan bumi adalah korban lemah yang terpisah di luar sana. Pemisahan teoretis inilah yang menjadi jalan bebas hambatan mempercepat bencana global secara masif.

Untuk mendobrak kesesatan berpikir ini, kita harus beralih ke paradigma Biosentrisme. Berbeda dengan antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai puncak dan pusat dari segala sistem penciptaan, biosentrisme menekankan bahwa semua makhluk hidup memiliki nilai intrinsik yang setara. Alam semesta bukanlah panggung sandiwara yang disediakan hanya untuk melayani eksistensi manusia. Melalui kacamata biosentrisme, kita ditantang untuk menjungkirbalikkan logika lama: Bumi sama sekali tidak butuh diselamatkan. Bumi akan tetap ada, berputar, dan menyembuhkan dirinya sendiri dalam jutaan tahun setelah spesies manusia punah akibat ulahnya sendiri. Manusialah yang butuh diselamatkan dari kebebalannya sendiri. Kita bukan penguasa di luar alam; tubuh kita adalah bagian integral dari alam itu sendiri. Air yang kita cemari adalah darah yang mengalir di jantung kita, dan udara yang kita kotori adalah napas di paru-paru kita.

Menariknya, kesadaran biosentris ini sebenarnya bukan barang baru bagi masyarakat Global South . Jika kita mau menengok ke belakang, meninjau kembali kearifan lokal ( indigenous wisdom ) yang terserak di berbagai belahan dunia ketiga adalah kunci emas untuk memulihkan relasi timbal-balik yang setara ini. Tengoklah filosofi Tri Hita Karana di Bali yang menuntut keharmonisan antara manusia dengan alam, atau pandangan masyarakat adat Nusantara yang memposisikan tanah sebagai “Ibu” yang membesarkan kehidupan. Kearifan-kearifan lokal ini tidak melihat alam sebagai komoditas, melainkan sebagai subjek spiritual yang bernyawa.

Menghidupkan kembali memori kolektif kuno ini sangat krusial dalam membangun dan menciptakan kesadaran mengenai konsep keseimbangan lingkungan hidup modern, sebab ia menawarkan nalar resiprositas (saling menjaga), “ alam menghidupi manusia, dan manusia wajib merawat alam”.

Pendidikan Dasar sebagai Counter-Culture Ekologi

Ketika institusi politik ( government ) telah lumpuh oleh syahwat kekuasaan, dan institusi keluarga telah tersandera oleh tuntutan bertahan hidup yang konsumtif, kita menghadapi kebuntuan sosiologis yang akut. Di titik kritis inilah kita membutuhkan institusi alternatif yang memiliki daya jangkau massal namun masih mungkin diintervensi secara ideologis. Di wilayah Global South , satu-satunya institusi publik yang memenuhi syarat tersebut adalah sistem pendidikan.

Sistem pendidikan di negara berkembang memegang peran krusial karena ia bertindak sebagai jembatan transisi dari ruang privat keluarga menuju ruang publik masyarakat. Sekolah adalah satu-satunya wilayah publik yang legal untuk menyusun ulang cara berpikir generasi muda secara terstruktur, kolektif, dan masif sebelum pikiran mereka terkooptasi sepenuhnya oleh narasi ekokapitalisme luar. Oleh karena itu, intervensi pembentukan nalar ekologis harus dimulai sejak usia dini di taraf pendidikan dasar, yakni masa emas saat kesadaran manusia belum sekeras batu dan nalar kritisnya masih bisa ditumbuhkan.

Sekolah tidak boleh lagi sekadar menjadi lembaga penatar yang menyiapkan anak-anak menjadi sekrup kecil yang patuh di dalam mesin industri kapitalis. Sekolah harus merebut perannya dan bertransformasi menjadi ruang kontra-budaya ( counter-culture )—sebuah wilayah steril yang sengaja didesain untuk menolak nalar ekstraktif modern sekaligus menyuntikkan nalar biosentrislokal yang mereka bawa dari akar kebudayaan mereka sendiri.

Bagaimana pendidikan dasar berbasis biosentrisme ini dijalankan?

  1. Meruntuhkan Dinding Kelas dan Menghidupkan Kearifan Lokal: Anak-anak tidak boleh hanya menghafal nama pohon dan rumus biologi di depan papan tulis atau layar gawai. Mereka harus dibawa kembali menyentuh tanah, melacak filosofi lokal setempat tentang bagaimana leluhur mereka memperlakukan hutan atau sungai, menanam makanan mereka sendiri, dan memahami siklus kehidupan. Mereka harus dilatih melihat keterhubungan sirkular: bahwa setiap benda yang mereka gunakan memiliki asal-usul dari bumi dan akan kembali menjadi beban bagi bumi.

  2. Sekolah sebagai Ruang Komunal: Di tengah gempuran kultur digital yang memamerkan status sosial, sekolah harus melatih anak-anak mempraktikkan etika kecukupan ( ethics of enough ). Mengelola kebun sekolah bersama, merawat fasilitas publik secara gotong royong, dan

membagi hasil kerja secara adil adalah simulasi kecil untuk mematikan hasrat ketamakan individu sejak dini.

Kita mungkin tidak bisa menghentikan total kerusakan lingkungan global yang digerakkan oleh ketamakan struktural hari ini. Namun, kita bisa memperlambat kehancuran tersebut dengan membeli waktu bagi planet ini. Melalui infiltrasi nalar ekologis di taraf pendidikan paling dasar, kita sedang menanam benih manusia baru. Ketika sistem makro yang tamak ini kelak runtuh akibat kontradiksi internalnya sendiri, generasi baru dengan nalar biosentris inilah yang akan siap berdiri di atas puing-puingnya—bukan untuk mengulang kesalahan sejarah, melainkan untuk hidup sebagai bagian dari alam yang utuh.

Mengurai Kebuntuan Melalui Nalar Baru

Pada akhirnya, esai ini mengajukan sebuah refleksi mendasar bahwa kita tidak bisa lagi bersandar pada proyek-proyek makro-utopia eko-komunisme ala Kohei Saito yang abai terhadap jalinan hasrat dan libido kekuasaan di tingkat mikro sosiologis [Saito 2020]. Ketika negara lumpuh oleh ketamakan struktural dan institusi keluarga di dunia ketiga tersandera oleh keharusan validasi kelas sosial, maka pendidikan dasar harus ditarik sebagai benteng pertahanan ekologi yang terakhir. Melalui pembongkaran ilusi dualisme Cartesian yang menjebak kita dalam jargon semu Save the Earth , biosentrisme menawarkan jalan pulang menuju kesadaran bahwa manusia adalah alam itu sendiri. Ditopang oleh pemulihan memori kearifan lokal yang resiprokal, strategi infiltrasi nalar ekologis sejak usia dini ini bukanlah sebuah jaminan kepastian untuk menghentikan kiamat ekologis besok pagi. Namun, ia adalah sebuah tindakan taktis yang paling rasional, sebuah ikhtiar budaya untuk merawat waktu, memperlambat kerusakan, dan mempersiapkan sebuah generasi baru yang sanggup melangkah dengan pijakan kaki yang lebih bijaksana di atas bumi.