Setiap pagi sebelum matahari sepenuhnya menembus celah pepohonan pinus, Gunung Manglayang menyajikan sebuah simfoni hening. Udara dingin pegunungan perlahan terangkat bersama uap kabut tipis yang menyapu petak-petak kebun.
Seri foto esai ini mendokumentasikan fragmen-fragmen visual keseharian kolektif Buruan Manglayang dalam berinteraksi dengan tanah, tanaman, dan lingkungan sekitarnya.
Fragmen 1: Fajar dan Tetes Embun di Daun Saeh
Saat fajar menyingsing, daun-daun lebar pohon saeh menampung butiran embun murni. Permukaan daun yang berbulu halus membiaskan cahaya keemasan pertama, menandai dimulainya siklus fotosintesis di kebun agroforestri.
Fragmen 2: Tangan yang Menggemburkan Humus
Tanpa sarung tangan tebal, petani muda kami memeriksa kelembapan tanah di bawah tumpukan mulsa jerami dan daun bambu lapuk. Di sanalah jutaan mikroba dan cacing tanah bekerja dalam diam, mengubah sisa-sisa organik menjadi nutrisi kehidupan bagi tanaman pangan.
Fragmen 3: Ceri Merah di Balik Kabut
Buah kopi yang telah ranum berwarna merah tua (blood red cherry) dipetik satu demi satu secara perlahan. Tidak ada ranting yang patah atau buah hijau yang terenggut secara paksa. Ketenangan proses ini adalah cerminan dari rasa hormat manusia terhadap siklus alami tumbuhan.
Fragmen 4: Saung Bambu dan Asap Seduhan Kopi
Menjelang siang, para petani dan relawan berkumpul di saung bambu sederhana. Di atas meja kayu kasar, secerek air mendidih disiramkan ke atas bubuk kopi giling kasar. Aroma harum semerbak memenuhi ruangan, diiringi obrolan hangat dan tawa renyah tentang bibit mana yang akan ditanam minggu depan.
“Fotografi bagi kami bukan sekadar membidik keindahan permukaan, melainkan cara merekam jejak rasa cinta dan kesetiaan kami kepada bumi yang kami pijak.”